Gambling to make money_Lottery betting_Ranking of Asian Bookmakers_Recommended betting platform_888 Online Casino

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Indonesia membagi warna

MForeign betting platformsesForeign Foreign betting platformsbetting platformskipun cukup deg-degan ketika akan melewati perForeign betting platformsbatasan, tapi nyatanya perbatasan Papua Nugini selow sekali. Santai dan justru mempersilahkan kami masuk ke dalam. Tanpa dokumen apapun, termasuk paspor ataupun visa. Begini cerita serunya pengalaman Hipwee Travel ke Papua Nugini!

Turun sedikit dari penjual souvenir, terdapat satu tempat wisata yang bagus banget di Papua Nugini. Tampak dari atas sebuah pantai dengan ombak yang cukup besar dan ada bukit yang menjorok ke lautan. Pemandangan dari atas terlihat sangat cantik dan menarik buat foto-foto. Nggak sedikit wisatawan asal Indonesia yang datang ke sana. Tiket masuknya pun pake rupiah lho, 10 ribu rupiah harganya. Tulisan di kawasan wisata itu pun semua berbahasa Indonesia. Padahal bahasa Papua Nugini menggunakan bahasa Inggris ‘slank’ yang cukup unik.

Perbatasan Skouw di hari Senin (4/2) cukup ramai. Maklum, hari ini adalah hari kejepit nasional di mana banyak warga Jayapura maupun luar Papua yang berlibur ke Skouw. Hanya saja, Pasar Skouw tidak ramai hari itu karena bukan hari pasar. Memangnya ngapain sih liburan ke perbatasan RI-PNG? Ada apa di sana?

Rasa penasaran pasti timbul ketika berada di perbatasan. Garis batas yang di peta hanya berupa garis putus-putus ini ternyata memisahkan banyak hal, mulai dari kehidupan dasar sampai politik. Tak terkecuali garis batas di Skouw, Jayapura ini. Papua dengan garis batas megah dan gagah, sementara Papua Nugini dengan pagar sederhananya. Kehidupan di belakang garis pun sama dengan pos perbatasannya. Papua kini maju, Papua Nugini masih dengan kesederhanaannya.

Hipwee Travel akan memberikan liputan khusus destinasi wisata populer di Indonesia. Kami menamainya Reportase Wisata. Tiap bulannya kami akan mengupas satu destinasi yang sering jadi impian para traveler. Tak cuma destinasinya saja, kami juga akan membahas sudut pandang dan cerita-cerita lain seputar destinasi tersebut yang tak pernah ternarasikan sebelumnya.

Kurang lengkap rasanya apabila kamu nggak berfoto dengan anak-anak saat berkunjung ke suatu tempat, apalagi negara lain. Kami pun tak melewatkan kesempatan tersebut. Anak-anak Papua Nugini yang sangat ceria itu tak ubahnya anak-anak Papua. Bedanya mereka berbahasa Inggris meskipun cukup terdengar aneh di telinga.

Ayo yang mau menambah jumlah kunjungan negara lain, bisa banget datang ke Skouw dan jelajahi Papua Nugini sekitar perbatasan. Jangan jauh-jauh tapi ya!

Selepas foto-foto di perbatasan, Hipwee Travel segera kembali ke Indonesia lewat pagar ajaib yang tidak memerlukan dokumen apapun tersebut. Penyebabnya adalah transaksi ekonomi kedua negara yang erat. Banyak warga Papua Nugini belanjanya di Skouw dan rame sekali di hari pasar. Jadi perbatasan pun agak santai dan sangat bersahabat. Tidak ada ketegangan ataupun kengerian seperti di pos-pos perbatasan lainnya. Perbatasan Skouw-Wutung RI-PNG ini bisa jadi perbatasan paling woles di dunia. Cukup KTP aja, kamu bisa pindah ke negara lain. Hehehe.

Bersama puluhan warga Indonesia lainnya, Hipwee Travel pun memasuki pagar batas Papua Nugini. Pagarnya sederhana, bangunannya pun seperti pos satpam yang ukurannya besar. Sebelumnya, kami meninggalkan KTP kami pos penjagaan di Skouw. Di perbatasan Papua Nugini nggak dimintain apapun, malah dipersilahkan masuk. Wah ternyata baik juga ya penjaga perbatasan Papua Nugini.

Setelah melewati perbatasan, terdapat area seperti terminal di mana ada beberapa orang yang menyewakan mobil untuk ke kota terdekat, Vanimo. Sementara ada beberapa orang Papua Nugini yang duduk-duduk di area tersebut. Entah mereka mau ke Skouw atau sekedar berjualan, tidak bisa diketahui secara jelas. Tak jauh dari situ, ada beberapa penjual souvenir dan juga makanan. Sepertinya turis dari Indonesia lumayan banyak sehingga mereka berjualan di sana.

Tentara perbatasan meminta saya memasukkan kamera ke dalam tas. Ia khawatir kalau nanti kamera direbut petugas di Papua Nugini. Meskipun agak keberatan, namun kamera tetap saya masukkan ke tas. Ya daripada ribet di negara tetangga ‘kan?

Untuk destinasi bulan ini pilihan kami jatuh ke Papua, provinsi paling timur Indonesia. Siapa sangka Papua punya berbagai keindahan alam yang memesona. Untuk artikel kedua, kami akan menyeberang ke Papua Nugini hanya bermodal KTP dan tanpa paspor ataupun visa. Lha memangnya bisa?